Bruder Godefridus de Groot lahir di Oegstgeest pada 21 Agustus 1848. Sejak kecil, ia bercita-cita menyerahkan hidupnya bagi Tuhan. Ketika Paus di Roma memohon bantuan dari seluruh umat Katolik untuk mempertahankan wilayah kekuasaan Gereja, ia berangkat ke Italia dan mendaftarkan diri sebagai Zoaf, tentara yang berjuang untuk Negara Kepausan.
Setelah perang berakhir, ia berkeinginan masuk Serikat Yesus dan melamar ke Provinsi SJ Italia. Ia diterima, tetapi sebelum benar-benar memasuki novisiat, ia masih terpanggil untuk membela Negara Kepausan. Baru setelah tentara kepausan dibubarkan, de Groot pergi ke Afrika dan bergabung dengan kongregasi Missionaires d’Afrique. Namun, setelah melihat beberapa rekannya meninggal karena situasi berat di Afrika, ia memutuskan untuk mengundurkan diri dan kembali ke Belanda.
Beberapa tahun kemudian, ia berlayar ke Hindia Belanda sebagai tentara Kerajaan Belanda. Dengan cepat, ia naik pangkat dan menjadi sersan. Saat bertugas, ia terlibat dalam Perang Aceh dan kerap kali membantu Pater Henricus Verbraak, S.J., seorang almusenir terkenal (1835–1918). Ia juga menjadi anggota setia Militaire Congregatiae, komunitas religius militer yang didirikan oleh Pater Verbraak.
Riwayat Penugasan di Indonesia
| Rumah tangga Larantuka | Flores | 1892-1898 |
| Rumah tangga Maumere | Flores | 1898-1919 |
| Rumah tangga | Muntilan | 1919-1926 |
Pada 30 Januari 1890, Godefridus de Groot akhirnya memasuki Serikat Yesus di Larantuka, dengan Pater Adrianus Asselbergs sebagai superior komunitas sekaligus magister novis—novisiat pertama di bumi Nusantara.
Hingga 1899, ia berkarya di Larantuka, kemudian pindah ke Flores Tengah, bekerja di Maumere, Lela, dan Sikka, sebelum akhirnya menuju Koting untuk menemani Pater Ijsseldjik. Selama bertugas, ia bekerja di sekolah, menjadi sakristan di gereja, serta menangani berbagai urusan besar maupun kecil dalam sebuah paroki terpencil yang tengah berkembang.
Pada tahun 1904, terjadi malapetaka di Koting. Bruder de Groot berjuang sekuat tenaga untuk membantu membangun kembali Koting, sebuah tempat yang begitu ia cintai.
Pada 1914, Flores dipisahkan dari Vikariat Batavia dan diserahkan kepada para Pater SVD. Namun, akibat Perang Dunia I, proses pengambilalihan menjadi sulit. Baru pada tahun 1920, Pater Ijsseldijk dan Bruder de Groot meninggalkan Koting, digantikan oleh tenaga baru yang lebih muda dan lebih banyak. Ia kemudian pindah ke Kolese Xaverius Muntilan, di mana ia bekerja di kebun sayur, merawat Pater K. van der Heijden dan Pater J.C. Wenneker, serta mengabdikan diri dalam doa bagi Serikat Yesus.
Bruder Zoaf Jesuit ini meninggal di Muntilan pada 26 Desember 1926, meninggalkan jejak pengabdian yang luar biasa di Nusantara.